Coklat segala Rasa

,
"Sebuah penelitian di Universitas Cambridge menyatakan pengaruh makan coklat bersifat psikologis. Kombinasi aroma dan rasa membuat makan coklat adalah pengalaman yang menyenangkan." Metrotvnews.com
****

Di dalam bis pulang kerja kemarin, mendadak kepala saya terasa berat. Sedikit pening. Saya coba cari permen yg rasanya rame atau bervitamin c di dalam tas, krn biasanya saya sedia. Mudah2an bisa menghilangkan rasa tak nyaman itu. Tapi yg dicari ga ada, dan saya baru ingat klo saya bawa sesuatu yg lain. Coklat. Coklat putih. Nyemmm...

Saya bukan penyuka coklat. Tapi dua hari lalu ada kiriman coklat dgn berbagai merek, bentuk dan rasa untuk saya. Hmm, siapa pula yg mau nolak :D. Baru kali ini saya mendapat coklat begitu banyak. Beneran nih? Dan seperti kata pengirimnya, kalau kurang kiriman coklatnya, saya tinggal bilang. Bilang aja kan ga bayar :P. Terima kasih ya ;).

Setelah dibagi untuk ponakan, teman seruangan kantor dan saya sendiri, coklat itu msh ada beberapa. Sengaja. Krn saya ingin menikmatinya khusus bersama orang yg saya sayangi. Sambil ngobrol dan nonton tivi. Sekaligus mengucapkan padanya, Selamat hari ibu... *cipika-cipiki*

"Maaf, tolong ya..."

,
Saya tidak menyebutnya 'setiap', tapi boleh dibilang 'sering banget'. Saya hanya khawatir, ah.. mudah2an sih jangan, hal itu menjadi budaya kita, orang Indonesia. Menyedihkan..

Banyak ditemui di tempat2 umum, papan atau kertas atau dinding yang bertulisan: 'Jagalah Kebersihan', 'Jangan Buang Sampah Disini', 'Sehabis Buang Air, Tolong Disiram', 'Dilarang Merokok', 'Harus Antri' dsb. Ironisnya, tulisan2 itu hanya dianggap hiasan atau tantangan (?), krn tak jarang justru dgn adanya tulisan itu sampah tetap saja berceceran, kamar mandi umum tetap saja bau meski air berlimpah, ga mau antri, asap rokok... duuuhhh!

Itu yg diingatkan dgn tulisan, apalagi yg perlu kesadaran pribadi. Seperti diangkot atau di bis umum, berulang kali saya perlu mengeluarkan kata, "maaf bu, bisa geser dikit?" pada wanita yg tak bergeming melihat ada penumpang lain yg naik dan kondisi angkot/bis hampir penuh. Diminta spt itupun, dgn muka masam dan berat hati yg bersangkutan hanya menggeser duduknya, sedikit. Atau berulang kali saya harus mengucapkan kata, "permisi bu/pak," sama orang yg berdiri menghalangi jalan di koridor (antar rak barang) supermarket, meski dia tahu banyak orang yg akan lalu lalang. Refleknya kemana sih?! Mad 2

Juga ada suatu kondisi yg sering terjadi dan paling bikin saya gemes. Di Kota Serang Banten angkutan umum yg biasa disebut kopas, jumlahnya sangatlah banyak. Sehingga, meski sudah ada rute masing2, tetap saja si supir akan mengambil penumpang dgn tujuan kemanapun. Jadilah penumpang adalah raja yg sesungguhnya. Sampai calon penumpang yg masih jalan di ujung gang, bisa ditunggui oleh kopas. Ga peduli, di dalamnya sudah ada penumpang lain yg sedang terburu-buru, atau marah2 sekalipun.

Dan hebatnya lagi, si orang yg ditunggu untuk naik kopas tadi berjalan melenggang seperti tidak terjadi apa2. Klemar-klemer, pelaaaaaaaaaaan bgt jalannya. Padahal dia sadar 1000 persen ditungguin ga cuma sama si sopir yg butuh setoran, tp sama penumpang lain. Lebih gondoknya lagi, klo udah ditungguin, begitu deket kopasnya dgn enteng dia ngomong, "ga ah, penuh." Gubrakkk!! pdhl masih ada satu posisi untuk dia, makanya dia ditungguin. Atau tanpa bersalah orang itu lewat begitu aja krn ternyata dia emang ga mau naek angkot, tp mau nyebrang. Duuuhh mbok ya bilang engga, atau geleng2, bisa jg lambai-in tangan tanda tidak.Rant 5

Kesadaran di ruang publik perlu dapet perhatian. Berfikir dan empati untuk orang lain bukankah tindakan terpuji.

*** UPDATE ***

Jadi juga nonton HapotGof minggu kemarin, setelah dirayu Dian. Dan kangen saya terobati :D.
 

Sharing about Online Business Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates