Cincin (5) - Pilihan

,
Banyak orang yg mengeluh karena tak punya pilihan. Tidakkah mereka itu tahu, orang yg punya atau diberi pilihan, akan ada dua hal yg harus dilakukan. Memutuskan dan siap menerima segala resiko dari pilihannya itu. Bukanlah suatu hal yg mudah.

"Makanya, kalau memilih yg benar."

Dua kotak yg sama dikemas sangat indah, tampak luar. Kotak A dan B berisi sebuah benda. Seseorang harus memilih diantaranya. Tidak diketahui benda itu baik atau buruk, pantas atau tidak pantas, benar atau salah. Pilih.

Apapun yg menjadi pilihannya adalah keputusannya. Keyakinan? Feeling? atau apalah namanya yg jelas itu keputusannya. Apakah lalu jika keputusannya itu berbuah pada pilihan yg buruk, tidak pantas dan salah, kita lantas bisa dgn mudah mengatakan, 'makanya, kalau milih yg benar'?

Hati manusia seberapa dalamnya, tak ada yg tahu. Itu kata bijak. Memilih sebuah hati adalah dengan hati. Bijak jg? saya tidak tahu. Yg saya tahu, saya sudah memilih. Membuat keputusan. Dan sejak tujuh tahun lalu hingga kini atau mungkin sampai saya mati, saya akan menerima segala resiko dari keputusan itu.

Siap menerima resiko dari suatu pilihan. Hmm, kelihatannya serem dan sok. Saya sudah memutuskan dan menerima resikonya bukan krn siap atau sok. Tapi itu pilihan.

'Makanya...' sebuah awalan kata yg menurut saya menyudutkan. Tapi saya tak bisa protes, meski saya ingin. Saya ingin menjelaskan, tp saya tak ingin mengungkit hati. Ingat 'menerima resiko' tadi. Jika harus ada orang lain yg dipersalahkan untuk sebuah pembenaran, adalah saya sendiri. Ingat 'keputusan sendiri'.

Sedih, pasti. Marah, jelas. Apalagi jika resiko itu tidak hanya saya yg merasakannya, tp jg orang2 yg saya sayangi. Saya cintai. Lalu, lagi dan lagi saya menyalahkan diri sendiri dalam diam. Sendiri.

Saya mencintaimu, angel dan princess. Itu pilihan saya saat ini.***
 

Sharing about Online Business Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates