My Mom and Me

,
Masa baby sampai usia SD adalah masa-masa ketergantungan sama Ibu. Ga bisa lepas darinya. Ga berdaya kalau Ibu ga ada untuk sebentar saja. Ibu adalah idola.

Diusia SMP hingga SMA, Ibu jadi terasa berbeda. Ada saja pertentangan. Terlalu banyak menuntut. Kebebasan sedikit terusik.

Saat kuliah dan awal-awal mandiri dengan bekerja, perbedaan semakin jelas. Saya adalah saya. Punya keinginan, punya pilihan dan berhak menentukan hidup sendiri. Ibu terlalu banyak ikut campur. Konfrontasi.

Sejak tiga tahun yang lalu, saat ini dan nanti, Ibu adalah segalanya. Apa yg dilakukan diri saat ini dan nanti hanyalah untuk membuatnya bahagia. Berjanji untuk selalu menjaganya. Ada perasaan, I'm just like her :).

****

Buat Na, Ibu punya makna:
Kasih sayang, pengorbanan, perlindungan, guru juga sahabat.

****

Hari Ibu kemarin, rencananya Na mo bikin surprise dengan membuat sendiri brownis keju yg resepnya Na dapet di Tabloid Nova. Tapi krn dua minggu berturut-turut Na disibukkan dengan kegiatan syuting kelompok tani, jadi lom kesampean. Mungkin minggu depan. Tapi sore tadi boss telpon minta Na beresin kompi kantor yg mo dibawa pindah. Mungkin minggu depannya lagi.. hehe.

Akhirnya, pulang kerja kemarin Na beli cokelat untuk dua orang ibu yg ada di rumah. Ibu dan Kakak Na. Terima kasih sayang, kata mereka dengan senyum mengembang :D.

****

"be proud and be happy as a mother"

Shooting Kelompok Tani

,
Pagi sekali, hari minggu kemarin, Na dan tiga teman pejantan sudah bermotor ria ke arah Serang Timur. Tepatnya menuju Desa Cigelam Kecamatan Ciruas untuk pengambilan gambar kegiatan petani, mulai membajak tanah, menanam benih hingga kegiatan panen.

Alam Lestari

Ini adalah kali kedua pengambilan gambar untuk keperluan pembuatan video Kelompok Tani. Pengambilan gambar yang pertama dilakukan minggu yang lalu di Desa Cilaja Pandeglang. Di sana fokus pada pembentukan Kelompok Tani Alam Lestari yang bergerak pada budidaya Lebah Madu.

Bertani
Karena Na dibonceng, jadi Na bisa bebas menikmati hijaunya persawahan yang terbentang sepanjang perjalanan. Sesekali tiga motor kami berpapasan dengan para petani yang bersepada menuju sawahnya masing-masing.

Na jadi ingat cerita seorang teman yang begitu memuja indahnya matahari pagi yang muncul di daerah persawahan. Dan kemarin Na merasakan langsung. Ada perasaan tenang dan semangat baru menyaksikan itu semua.

Dan setelah setengah jam perjalanan bermotor ria, kami sampai di desa yg dituju. Rupanya, para petani yg akan diambil gambarnya sudah berangkat ke sawahnya. Kamipun langsung menyusul.

Hijaunya Persawahan

Dari kejauhan luasnya persawahan, Na melihat kumpulan petani yg sedang menanam benih bersama di beberapa areal sawah yg berbeda. Dengan semangat, Na dan teman2 berjalan di pematang sawah menuju para petani itu. Lumayan berkeringat, tapi kami tetap exiting. Apalagi view pagi itu di tengah sawah bagus sekali. Setelah ngobrol sebentar dengan beberapa petani, pengambilan gambar dimulai sesuai dengan catatan yang Na pegang.

Hidup jadi petani ternyata menyehatkan. Bangun pagi, bekerja di sawah, menghirup udara bersih dan terkena matahari pagi.

Anak Siapa?
Selesai, kami kembali ke desa untuk pengambilan gambar lainnya, terutama kehidupan petani dan tempat pengolahan gabah menjadi beras. Melihat kegiatan kami, suasana desa petani yang tenang, jadi sedikit heboh. Anak-anak, ibu-ibu dan beberapa bapak berkerumun di sekeliling kami. Matanya terfokus melihat handycam yang sedang merekam gambar. Repot juga ngaturnya :D.

Ada kejadian lucu. Untuk keperluan skenario, Na minta bantuan dua anak mengenakan seragam sekolahnya, berperan menjadi anak seorang petani yang berhasil. Tapi begitu mulai pengambilan gambar, dua belas anak siap dengan seragamnya!. Nah lho, anak2 siapa nih?. Bingung dan Na ga tega bilang cuma perlu dua anak. Akhirnya dua anak tetap berperan jadi anak petani, yang lain jadi teman-temannya plus ada adegan belajar bareng.. hehe. Biar adegan ini ga masuk dalam scene nanti, tapi bisa dibuat VCD tersendiri untuk mereka sebagai kenang-kenangan :).

Mencari Pedangang Pengumpul
Sekitar jam sembilan, semua pengambilan gambar di desa petani selesai. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke pasar Dukuh untuk mencari pedangan pengumpul dan toko yang menjual sarana pertanian. Perjalanan ke sana, kami melewati Desa Bumijaya yang ternyata sebagai sentra industri gerabah, kamipun mampir untuk melihat kegiatan para pengrajin gerabah yang memang tersebar di sepanjang jalan desa itu.

Sentra Gerabah

Tiba di Pasar Dukuh terasa hiruk pikuk. Pasar yang tidak begitu luas itu menempati pertigaan jalan utama, sehingga terlihat semrawut, ditambah cuaca yang mulai terik. Disana kami cuma bisa mengambil gambar toko sarana pertanian, sedang pedagang pengumpul nihil. Mungkin transaksi mereka sudah dilakukan pagi hari. Ini berarti, mesti coba dicari ke pasar lainnya. Targetnya Pasar Rau di Serang. Ternyata di pasar inipun hanya ada pedagang besar buah-buahan. Beberapa pedagang sayuran sudah banyak yang tutup. Dirasa sudah cukup, kamipun pulang.

****
Hari ini Na dan seorang teman mulai mengedit hasil pengambilan gambar dan melakukan pengisian suara. Dead-line!
 

Sharing about Online Business Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates